Mau yang lebih?? Disini Bro!!!

Rabu, 21 Oktober 2009

NETRALITAS DALAM KETIDAKADILAN??

“Jika Anda bersikap netral dalam situasi ketidakadilan, maka Anda telah berpihak kepada sang Penindas. Jika seekor gajah menginjak ekor tikus dan Anda mengatakan bahwa Anda netral, maka sang tikus tidak akan pernah menghargai netralitas Anda.” (Desmond Tutu, Pemimpin Spiritual Afrika Selatan).
Ada beberapa rentetan peristiwa penting di bulan Januari tahun 2009 ini. Berawal dari perayaan tahun baru Masehi (baca: Miladiyah) yang berlangsung semarak, gegap gempita dan menyedot anggaran yang sulit untuk dikatakan kecil. Lalu pada hari Sabtu tanggal 10 Januari 2009, KM Teratai yang berangkat dari Pelabuhan Pare-Pare, Sulawesi Selatan menuju Balikpapan diterpa badai disertai hujan deras di tengah perjalanannya, sehingga mengakibatkan kapal tersebut tenggelam di sekitar wilayah perairan Majene, Sulawesi Barat. Pada Jum’at 16 Januari 2009, Iran merayakan revolusinya yang ke-30, yang menandai berakhirnya rezim Shah Iran. Kemudian insiden terbakarnya Depo Plumpang, Jakarta Utara pada hari Ahad tanggal 18 Januari 2009. Tangki penampungan nomor 24 yang terbakar ini berisi premium 5.000 kiloliter. Dan peristiwa yang paling banyak menyita perhatian dunia ialah peristiwa yang berlangsung pada Selasa siang tanggal 20 Januari 2009. Acara tersebut tak lain adalah pengambilan sumpah Barack Hussein Obama sebagai presiden AS yang ke-44 sekaligus sebagai presiden pertama keturunan Afrika-Amerika. Peristiwa inilah yang sejak primary Partai Demokrat AS, menjadi headline news media-media di dunia.

Kita tinggalkan sejenak pembahasan tentang potongan-potongan sejarah tersebut. Sebab ada aksi genocide yang terjadi di salah satu negara Muslim yang dilakukan sejak tanggal 27 Desember 2008 silam, sehingga mengakibatkan bencana kemanusiaan yang amat besar dan mengerikan. Negara Muslim yang memiliki banyak negara tetangga yang nota bene juga Muslim, namun ternyata identitas itu tidak cukup memadai untuk “hanya” membuka perbatasannya sebagai salah satu langkah untuk memudahkan distribusi bantuan kemanusiaan yang di supply dari negara-negara yang masih memiliki hati nurani. Saya yakin, apa yang saya maksud dan apa yang menjadi kesadaran kolektif pembaca mengarah kepada satu nama. Negara yang berbatasan langsung dengan Mesir ini ialah Palestina. Negeri para Nabi yang menjadi kiblat pertama umat Islam. Negeri yang di dalamnya terdapat salah satu dari tiga masjid yang menjadi kebanggaan umat Islam dunia. Negeri yang memiliki latar belakang historis yang tinggi sebab selain menjadi tujuan Rasulullah saw sebelum naik menemui Allah SWT di Sidratul Muntaha, negeri ini juga diabadikan dalam Al-Quran sebagai negeri yang sekelilingnya diberkahi oleh Allah SWT.

Namun, melihat kondisi Palestina hari ini, kita pantas menangis sebab kebanggaan-kebanggaan tersebut seakan sirna direnggut zaman. Hari ini di Palestina, butiran air mata tidak pernah berhenti untuk mengiringi kepergian anggota keluarga yang menjadi korban kekejaman israel “keturunan kera” la’natullah ‘alaihim itu. Hari ini di Palestina, proyektil peluru tajam yang dimuntahkan tentara zionis israel dari senjata-senjata super canggih mereka seakan tidak pernah habis untuk melubangi batok kepala anak-anak Palestina yang tidak berdosa. Hari ini di Palestina, darah mereka bercucuran untuk mempertahankan tanah mereka yang telah telah dirampas oleh zionis israel la’natullah ‘alaihim. Hari ini di dunia Islam, …………………?????????
Dunia Islam seakan bisu, buta dan tidak mau tahu apa yang sebenarnya terjadi di Palestina sana. Mereka sibuk dengan urusan mereka sendiri, sehingga nyawa orang-orang tak berdosa di Palestina seolah-olah tak mampu menggerakkan nurani mereka walau hanya untuk mengirimkan untaian doa.

Wahai umat Islam, ketahuilah bahwa disana sudah 1.400 nyawa melayang sia-sia, 5.300 lainnya luka-luka, akses air bersih terputus, ancaman wabah penyakit yang kapan saja siap menyerang, dan masih banyak lagi kesulitan-kesulitan hidup yang mereka rasakan saat ini. Pantaskah kita berdiam diri, pantaskah kita ongkang-ongkang kaki, pantaskah kita bergembira di atas penderitaan mereka….?? Tidak, sungguh tidak pantas bagi kita, sekali lagi sungguh tidak pantas bagi kita.

Wahai umat Islam, ketahuilah bahwa dalam konflik ini hanya ada dua pihak yang terlibat, yaitu pembantai dan yang dibantai. Bantuan materi yang kita kirimkan kepada mereka tidak akan pernah cukup untuk mengatasi penderitaan mereka. Sebab setelah mereka gunakan untuk membangun masjid, rumah sakit, jalan raya, serta fasilitas umum lainnya, maka kapan saja bisa diluluhlantakkan kembali oleh israel para “pembantai busuk” itu. Oleh sebab itu, salah satu langkah riil yang bisa ditempuh oleh umat Islam saat ini ialah mengirimkan pasukan mereka lengkap dengan persenjataannya untuk mengusir jauh-jauh para pembantai busuk itu, enyah dari tanah yang telah mereka rampas.

Bantuan materi kita kepada mereka, uang, obat-obatan, dan sebagainya memang berarti bagi mereka, namun keberartiannya tidak akan pernah mereka rasakan secara utuh manakala israel la’natullah ‘alihim belum angkat kaki dari bumi jihad Palestina. Berita terkini memang menyebutkan bahwa pasukan israel sudah ditarik mundur dari Jalur Gaza, namun mereka bisa sewaktu-waktu kembali menginjakkan kaki kotornya di atas tanah Palestina yang suci.
Mungkin, yang ingin disampaikan oleh Desmund Tutu selanjutnya ialah “Tetaplah melawan, sekali pun kalian berada di tengah orang-orang yang netral (baca: tidak berpihak kepada yang ditindas)”, seperti sikap Indonesia ketika “abstain” dalam pengambilan keputusan mengenai dijatuhkan tidaknya sanksi kepada Iran terkait dengan proyek nuklir mereka. Lantas apa yang terjadi setelah sikap “netral” itu…??? Pemerintah Iran melalui Duta Besarnya di Jakarta menyatakan bahwa mereka sangat kecewa dengan sikap Indonesia. Indonesia telah menciderai hubungan baiknya dengan Iran. Sikap netral yang tidak berguna.

Oleh sebab itu, kerahkanlah seluruh kemampuan kalian untuk mengusir israel dari tanah Palestina, dengan mengirim pasukan, persenjataan, relawan, atau dengan hard diplomacy, dan upaya-upaya lainnya yang bisa kita tempuh untuk mengusir “kera-kera” tersebut dari Palestina. Saya optimis, upaya yang bisa kita tempuh masih banyak dan saya yakin harapan itu masih ada. Harapan itu……..masih ada. []

Menjelang Jum’atan, 26 Muharram 1430 H
23 Januari 2009 M

0 comments:

Template by : kendhin x-template.blogspot.com