Mau yang lebih?? Disini Bro!!!

Sabtu, 31 Oktober 2009

5 TIPE WANITA DALAM AL-QUR'AN

Setidaknya, ada 5 tipe wanita dalam Al-qur’an:

Pertama, tipe pejuang. Wanita tipe pejuang memiliki kepribadian kuat. Ia berani menanggung resiko apapun saat keimanannya diusik dan kehormatannya dilecehkan. Tipe ini diwakili oleh St. Asiyah binti Mazahim, istri Fir’aun. Allah juga mengabadikan doanya dalam Q.S. At-Tahrii:11

Kedua, tipe wanita shalehah yang menjaga kesucian dirinya. Tipe ini diwakili Maryam binti Imran. Hari-harinya ia isi dengan ketaatan kepada Allah Swt. Ia pun sangat konsisten menjaga kesucian dirinya.

Ketiga, tipe penghasut, tukang fitnah dan biang gosip. Tipe ini diwakili Hindun, istri Abu Lahab. Al-Qur’an menjulukinya sebagai “pembawa kayu bakar”, alias penyebar fitnah. Dalam istilah sekarang “wanita penyiram bensin”. Isu yang awalnya biasa, menjadi luar biasa ketika diucapkan Hindun.

Keempat, tipe wanita penggoda. Tipe ini diperankan Zulaikha saat menggoda Nabi Yusuf AS.

Kelima, tipe wanita pengkhianat dan ingkar terhadap suaminya. Allah memuji wanita yang tidak taat kepada suaminya yang zalim, seperti yang dilakukan “Perempuan Fir’aun” (QS. At-Tahriim: 11). Namun, pada saat bersamaan, Allah pun mengecam perempuan yang berkhianat kepada suaminya (yang shaleh). Istrinya Nabi Nuh dan Nabi Luth mewakili tipe ini. Saat suaminya memperjuangkan kebenaran, mereka malah menjadi pengkhianat dakwah (QS. At-Tahriim: 10)

Kamis, 29 Oktober 2009

INDAHNYA MEMBERI


Cinta itu indah. Karena ia bekerja dalam ruang kehidupan yang luas. Dan inti pekerjaannya adalah memberi. Memberi apa saja yang diperlukan oleh orang-orang yang kita cintai untuk tumbuh menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.

Para pencinta sejati hanya mengenal suatu pekerjaan besar dalam hidup mereka: memberi. Terus menerus memberi. Dan selamanya begitu. Menerima? Mungkin, atau bisa juga jadi pasti! Tapi itu efek. Hanya efek. Efek dari apa yang mereka berikan. Seperti cermin kebajikan yang memantulkan kebajikan yang sama. Sebab, adalah hakikat di alam kebajikan bahwa setiap satu kebajikan yang kita lakukan selalu mengajak saudara-saudara kebajikan yang lain untuk dilakukan juga.

NEGERI CINTA

Arafah. Padang luas tempat kita menghampar jiwa. Semua lebur jadi satu tanpa sekat. Semua sekat: etnis, warna kulit, postur, latar budaya dan sejarah. Ihram putih yang membalut tubuh-tubuh kita yang menyimbolkan kesatuan. Semua kesatuan: asal usul, tujuan hidup, jalan hidup yang kita tempuh untuk mencapai tujuan itu.

Arafah itu seperti lukisan jiwa-jiwa yang digantung di dinding sejarah. Seluruh jiwa menyatu dalam lukisan yang rumit; disatukan oleh kekuatan yang lahir kekuatan; kekuatan cinta yang lahir kekuatan iman. Tiba-tiba kita semua merasakan kerendahan hati yang tulus. Lalu jiwa kita hampar bagai permadani;silakan semua orang duduk di sana. Perbedaan-perbedaan ini—etnis, warna kulit, postur, latar budaya dan sejarah—seketika berubah menjadi sumber keindahan yang menghiasi langit kehidupan kita.

Cintalah rahasianya. Maka ekspansi Islam dari Jazirah Arab ke kawasan Asia Tengah, Selatan, Tenggara dan Cina, atau kawasan Afrika Selatan dan Utara sampai ke Eropa Barat dan Timur, bukanlah suatu catatan tentang pedang terhunus yang tak pernah berhenti berdarah. Itu justru serangan pasukan cinta yang datang membebaskan jiwa-jiwa manusia dari belenggu yang membatasi hidupnya dengan sekat tanah dan etnis: maka menyatulah mereka dalam cinta yang melapangkan dunia. “Akan kami perangi mereka dengan cinta,” kata Hasan Al-Banna.

Selasa, 27 Oktober 2009

PESONA SANG NABI

“Kalau saja aku adalah Muhammad,” kata Iqbal, “Aku takkan turun kembali ke bumi setelah sampai di Sidratul Muntaha.”

Iqbal barangkali mewakili perasaan kita semua: pesona keteduhan di haribaan Allah, di puncak langit ketujuh, di Sidratul Muntaha, terlalu menggoda untuk ditinggalkan apalagi untuk sebuah kehidupan penuh darah dan air mata di muka bumi. Dua kehidupan yang tidak dapat diperbandingkan. Sebab perjalanan ke Sidratul Muntaha itu memang terjadi setelah sepuluh tahun masa kenabian yang penuh tekanan, disusul kematian orang-orang tercinta yang menjadi penyangga, Khadijah dan Abu Thalib. Perjalanan itu perlu untuk menghibur sang Nabi dengan panorama kebesaran Allah SWT.

Tapi Sidratul Muntaha bukan penghentian. Maka sang Nabi turun juga ke bumi akhirnya. Menembus kegelapan hati kemanusiaan dan menyalakannya kembali dengan api cinta. Cintalah yang menggerakkan langkah kakinya turun ke bumi. Cinta juga yang mengilhami batinnya dengan kearifan saat ia berdoa setelah anak-anak Thaif melemparinya dengan batu sampai kakinya berdarah: “Ya Allah, beri petunjuk pada umatku, sesungguhnya mereka tidak mengetahui.” Seperti juga cinta menghaluskan jiwanya sebelas tahun kemudian, saat ia membebaskan penduduk Makkah yang ia taklukkan setelah pertarungan berdarah-darah selama dua puluh tahun: “Pergilah kalian semua, kalian semua sudah kumaafkan,” katanya ksatria.

RAHASIA KEAJAIBAN

Lelaki tua itu akhirnya merenggut takdirnya. Roket-roket Yahudi mungkin telah meluluhlantakkan tubuh lumpuhnya. Tapi mereka keliru. Sebab nafas cintanya telah memekarkan bunga-bunga jihad di Palestina. Sebuah generasi baru tiba-tiba muncul ke permukaan sejarah dan hanya tahu satu kata: jihad. Dan darahnya yang tumpah setelah fajar itu, adalah siraman Allah yang akan menyuburkan taman jihad di bumi nabi-nabi itu. Dan tulang belulangnya hanya akan menjadi sumbu yang menyalakan api perlawanan dalam jiwa anak-anak Palestina.

Syeikh Ahmad Yasin, lelaki tua dan lumpuh itu, adalah keajaiban cinta. Ia hanya seorang guru mengaji. Tapi dialah sesungguhnya bapak spiritual yang menyalakan api jihad di Palestina. Ia tahu, perjuangan Palestina telah dinodai para oportunis yang menjual bangsanya. Tapi ia tetap harus melawan. Dan lumpuhnya bukan halangan. Maka ia pun meniupkan nafas cintanya pada bocah-bocah Palestina yang ia ajar mengaji. Dari tadarrus Al-Quran yang hening dan khusyu’ itulah lahir generasi baru di bawah bendera Hamas. Palestina memang belum merdeka. Tapi ia telah merampungkan tugasnya: perang telah dimulai. Ketika akhirnya ia syahid juga, itu hanya jawaban Allah atas do’a-do’anya.

ANTARA POPULARITAS DAN CITA-CITA

"Apabila Anda bisa menjadi milik semua orang, buat apa menjadi milik sebagian orang. Namun, akan lebih baik bagi Anda jika menjadi milik sebagian orang daripada tidak menjadi milik siapa-siapa".

Kata-kata di atas hanya merupakan sepenggal kata hasil perenungan penulis dalam pencarian jati dirinya. Kalimat di atas adalah merupakan salah satu motivasi penulis untuk tetap meneruskan perjuangan, karena perjuangan seorang mukmin sejati tidak akan berhenti, dan tidak akan pernah berhenti sampai kedua kakinya menyentuh Syurga. Tapi itu bukan berarti bahwa setiap orang harus berpikiran seperti penulis, ini sepenuhnya hanya merupakan sebuah refleksi individu yang berusaha penulis ceritakan kepada para pembaca .

Penulis menyadari pula bahwa nantinya tulisan ini akan mengundang banyak interpretasi, yang tidak menutupkemungkinan akan berseberangan dengan ide penulis. Namun hal itu tidak akan menyurutkan semangat penulis untuk terus menulis dan memang bukanlah sebuah keharusan. Sebab, kalimat di atas bukanlah sebuah instruksi yang harus dikerjakan, bukan pula sebuah doktrin yang harus dianut, dan bukan pula sebuah "ayat" yang harus dihapal, melainkan hanya sebuah hembusan opini yang berusaha penulis ciptakan untuk menambah khazanah penulisan disamping sebagai karya yang meramaikan blog ini.

Lokus pembicaraan kali ini berkutat pada sesuatu yang menjadi motif dan tujuan utama sebagian besar manusia, motif yang seringkali memenuhi angan-angan manusia untuk bisa diwujudkan secepat mungkin. Apa itu? Ketenaran atau dalam bahasa lainnya ialah popularitas.

Jumat, 23 Oktober 2009

JANGAN BIARKAN BIDADARI ITU MENANGIS DI SANA…..!!!

Fatamorgana dunia yang dari hari ke hari semakin menyilaukan, membuat orang-orang yang telah lama disilaukan menjadi buta terhadap berbagai macam kenyataan-kenyataan hidup yang memang sudah lama tidak tersentuh oleh manusia. Belum lagi ketika kita berbicara kebenaran, maka niscaya kita akan menemukan sebuah fakta yang tidak jauh beda dengan kenyataan-kenyataan hidup di atas, bahkan “nasib” kebenaran jauh lebih tragis. Dibandingkan dengan “kenyataan hidup”, “kebenaran”, selain tidak tersentuh oleh manusia, juga mengalami perlakuan yang tidak pantas, yakni keinginan untuk mengetahui kebenaran sudah tidak semarak lagi, malahan dari hari ke hari semakin terkikis oleh arus “ketidakbenaran” yang memang melancarkan “serangan” sporadis.

Dengan fenomena yang terjadi di atas, ketidakbenaran telah menghegemoni tatanan hidup umat manusia. Tidak pandang bulu, bahkan sampai kepada orientasi hidup manusia juga didominasi oleh ketidakbenaran. Padahal, ajaran Islam telah menggariskan bahwa satu-satunya orientasi hidup jangka panjang manusia adalah kehidupan akhirat, dan salah satu reward yang paling ditunggu-tunggu adalah bertemu langsung dengan Zat yang telah menciptakan dan mengatur alam semesta beserta seluruh komponen-komponen yang ada di dalamnya, Zat yang telah menghidupkan dan mematikan seluruh makhluk hidup yang pernah dan akan ada di alam ini. Alangkah luar biasanya reward yang telah dijanjikan oleh Allah swt kepada hamba-Nya yang benar-benar dengan sepenuh hati menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi segala macam larangan-Nya.

Rabu, 21 Oktober 2009

“OLAHJIWA” CATUR DAN RODA KEHIDUPAN

Saban hari, penulis sering menyempatkan diri untuk mengisi waktu dengan bermain catur bersama temannya waktu di Pondok dulu. Berbagai pengalaman-pengalaman baru dalam teknik bermain catur banyak penulis dapatkan. Dan di sisi lain, penulis juga tak pernah lupa untuk menyediakan sebuah pulpen dan buku tulis yang senantiasa menemaninya dimanapun penulis berada. Kebiasaan ini penulis sering lakukan waktu masih di Pondok dulu, sebab penulis sangat yakin bahwa setiap dinamika kehidupan pasti menyimpan banyak pelajaran yang amat berharga, termasuk dalam permainan catur. Namun entah kenapa kebiasaan “ditemanin” buku dan pulpen itu—sekarang—jarang penulis lakukan lagi. Kali ini, penulis bukan mau mendeskripsikan penyebab “kebiasaan baik” itu hilang, akan tetapi penulis akan mencoba menyesuaikan tulisan ini dengan judul yang di atas.

Pada dasarnya, semua ini bermula dari papan catur.

NETRALITAS DALAM KETIDAKADILAN??

“Jika Anda bersikap netral dalam situasi ketidakadilan, maka Anda telah berpihak kepada sang Penindas. Jika seekor gajah menginjak ekor tikus dan Anda mengatakan bahwa Anda netral, maka sang tikus tidak akan pernah menghargai netralitas Anda.” (Desmond Tutu, Pemimpin Spiritual Afrika Selatan).
Ada beberapa rentetan peristiwa penting di bulan Januari tahun 2009 ini. Berawal dari perayaan tahun baru Masehi (baca: Miladiyah) yang berlangsung semarak, gegap gempita dan menyedot anggaran yang sulit untuk dikatakan kecil. Lalu pada hari Sabtu tanggal 10 Januari 2009, KM Teratai yang berangkat dari Pelabuhan Pare-Pare, Sulawesi Selatan menuju Balikpapan diterpa badai disertai hujan deras di tengah perjalanannya, sehingga mengakibatkan kapal tersebut tenggelam di sekitar wilayah perairan Majene, Sulawesi Barat. Pada Jum’at 16 Januari 2009, Iran merayakan revolusinya yang ke-30, yang menandai berakhirnya rezim Shah Iran. Kemudian insiden terbakarnya Depo Plumpang, Jakarta Utara pada hari Ahad tanggal 18 Januari 2009. Tangki penampungan nomor 24 yang terbakar ini berisi premium 5.000 kiloliter. Dan peristiwa yang paling banyak menyita perhatian dunia ialah peristiwa yang berlangsung pada Selasa siang tanggal 20 Januari 2009. Acara tersebut tak lain adalah pengambilan sumpah Barack Hussein Obama sebagai presiden AS yang ke-44 sekaligus sebagai presiden pertama keturunan Afrika-Amerika. Peristiwa inilah yang sejak primary Partai Demokrat AS, menjadi headline news media-media di dunia.

Template by : kendhin x-template.blogspot.com